RSS

DAKWAH DALAM MUHAMMADIYAH

10 Jan

DAKWAH DALAM MUHAMMADIYAH

Prof. Dr. Syafiq A. Mughni
(Ketua PWM Jatim)

Ada tiga tema dakwah yang selama ini dikembangkan oleh Muhammadiyah. Pertama adalah tema purifikasi. Syirik, takhayul, bid’ah dan khurafat telah didefinisikan sebagai tantangan dakwah, dan karena itu Muhammadiyah mengangkat tema-tema tajdid, pembaharuan dan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah dalam tabligh, khutbah dan pendidikan. Sasaran dakwah dengan tema ini lebih ditujukan kepada masyarakat santri tradisional dan abangan. Sekalipun dakwah dengan tema ini telah membuahkan hasil, ada kendala yang menghadang sehigga tidak bisa menjangkau secara efektif kedua varian Muslim tersebut. Mungkin ini persoalan strategi. Pernah ada gagasan agar Dakwah Kultural yang dikembangkan mampu menembus tembok pembatas itu. Metode yang lebih lunak dan bertahap bisa menjadikan dakwah Muhammadiyah lebih mudah diterima. Stigma bahwa Muhammadiyah anti-budaya bisa dikurangi dengan pendekatan yang lebih kultural.
Kedua adalah tema sosial. Sejak awal Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang memerangi kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dan panti asuhan serta usaha-usaha sosial lainnya telah menjadi trade mark Muhammadiyah. Tema ini bisa diterjemahkan dengan baik karena para pejuang Muhammadiyah awal terdiri dari kelas pedagang dan ulama yang secara ekonomi telah mapan. Mereka memiliki jiwa filantropis yang sangat tinggi. Dengan perjalanan waktu, berkembang pula amal usaha yang kemudian bisa hidup secara mandiri dan bahkan mampu menghidupi gerakan Persyarikatan. Muncul kesan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang kaya dan karena itu semakin berkurang orang yang mau berkurban secara material untuk Muhammadiyah. Di samping itu, dengan perkembangan jumlah anggota maka proporsi anggota yang masuk dalam kategori dluafa’ juga semakin membesar. Sehingga, Muhammadiyah harus berfikir meningkatkan kemampuan ekonomi anggotanya sendiri sebelum berbuat banyak untuk orang lain. Ini kemudian menyebabkan jangkauan dakwah Muhammadiyah terbatas.
Ketiga adalah tema pencerahan bangsa. Sekalipun bukan partai politik, Muhammadiyah terlibat dalam proses nation building. Beberapa tokoh Muhammadiyah pada dekade awal setelah kemerdekaan telah memberikan kontribusi dalam pemikiran politik dan juga terlibat dalam kegiatan politik lewat partai Masyumi. Dengan gejolak poltitik yang cukup signifakan sesuai dengan perubahan politik pada masa Orde Lama dan Orde Baru, pemikiran dan gerakan sebagian tokoh Muhammadiyah juga tidak bisa diabaikan. Tetapi, tema-tema politik mereka lebih banyak berorientasi pada soal ideologi politik Islam, misalnya negara Islam, Piagam Jakarta, Syari’ah Islam dan sejenisnya. Baru setelah reformasi, tokoh-tokoh Muhammadiyah menggeser tema dakwahnya untuk melawan penyakit bangsa, seperti korupsi, kolusi dan otoritarianisme. Tema-tema dakwah seperti demokrasi, transparansi, akuntabilitas, keadilan dan hak-hak asasi manusia mulai mendapat perhatian. Namun demikian, banyak muballigh Muhammadiyah yang belum menguasai tema-tema itu secara baik sehingga masih tampak gagap dalam melakukan dakwah pencerahan. Bahkan, tidak sedikit tokoh Muhammadiyah yang memandang tema-tema itu sebagai importasi ide-ide Barat yang kufur dan bertujuan menghancurkan Islam dari dalam. Belum bekembang sebuah kesadaran bahwa semua itu sesungguhnya inheren dalam ruh ajaran Islam sekalipun tidak selalu identik dengannya.
Sementara tiga jenis tema dakwah tersebut di atas tetap berjalan sambil melakukan perbaikan terus-menerus dari sudut penguasaan dai terhadap persoalan-persoalan kontemporer, tampaknya perlu ada revitalisasi dakwah untuk menjawab persoalan-persoalan yang sangat penting.
Persoalan pertama adalah kecenderungan radikalisasi. Melihat gerakan dakwah Islam, sesungguhnya kita bisa melihat tiga strategi yang berbeda. Pertama adalah dakwah yang bersifat akomodatif. Strategi ini menjadikan dakwah sangat lamban karena mengakomodasi tradisi yang telah mapan di tengah-tengah masyarakat sehingga hampir tidak melakukan perubahan apa-apa. Kedua adalah dakwah yang bersifat radikal. Strategi ini diambil untuk melakukan perubahan secara instan dan total, sehingga tampak berfikir hitam-putih dan tidak mengenal proses. Tentu ongkos yang harus dibayar sangat mahal jika menggunakan strategi ini. Ketiga adalah yang bersifat reformatif. Dengan strategi ini perubahan dilakukan secara bertahap. Tampaknya strategi inilah yang sesuai dengan jiwa Muhammadiayah sebagai gerakan reformis.
Namun demikian, ada kecenderungan, sekalipun belum begitu kuat, untuk bergeser ke arah radikal. Tren radikalisasi di kalangan Muhammadiyah itu juga muncul sebagai kritik petualangan dakwah ketika Muhammadiyah mulai menjangkau kawasan dakwah yang lebih luas. Jika dakwah itu dilakukan di kalangan kelompok Muslim yang modernis dan homogen tentu resikonya kecil. Tetapi ketika dakwah itu menjangkau kelompok antaraliran, antaragama dan antarbangsa, maka muncul resiko yang besar. Ketika dakwah mulai merambah ke komunitas abangan dan santri tradisional, muncul kritik karena dipandang toleran terhadap bid’ah dan khurafat. Ketika dakwah itu mulai merambah ke kelompok non-Muslim, maka resikonya adalah tuduhan “plurarisme,” suatu istilah yang sering kali tidak difahami secara cermat. “Pluralisme” bahkan sering difahami hanya sebagai relativisme kebenaran semua agama.
Persoalan kedua adalah kecenderungan surutnya minat terhadap ilmu agama. Sebagai gerakan Islam Muhammadiyah seharusnya memperkuat basis keilmuan agama. Tanpa harus memperdebatkan apa yang dimaksud dengan ilmu agama itu, kita sesungguhnya sangat membutuhkan kekuatan keilmuan ini. Dalam berdakwah, Muhammadiyah telah dan akan terus bersaing dengan gerakan-gerakan lain yang memiliki ciri gerakan dakwah. Kebutuhan terhadap ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah sesunggunya sangat bisa dimengerti karena berhadapan dengan masyarakat tradisionalis dan abangan yang masih kental dengan syirik, khurafat dan takhayul. Tetapi pada kondisi sekarang, Muhammadiyah berhadapan dengan gerakan dakwah yang mengusung tema-tema politik Islam, misalnya khilafah. Kalau para dai Muhammadiyah tidak memahami dasar-dasar politik Islam dan sejarah perkembangan institusi dan pemikiran politik Islam, maka akan sulit untuk menjelaskan bagaimana posisi Muhammadiyah dalam hal tersebut. Demikian juga, dalam kaitannya dengan gerakan yang mencitrakan diri sebagai salafisme, maka dasar-dasar normatif dan sejarah pemikiran teologi harus menjadi perhatian yang serius dai-dai Muhammadiyah.
Persoalan ketiga adalah dualisme sarana dakwah, yakni masjid dan perguruan tinggi. Sebelum berkembangnya pendidikan tinggi dalam Muhammadiyah, masjid telah mendominasi dakwah di tengah-tengah masyarakat. Perhatian Muhammadiyah juga sangat tinggi terhadap peran masjid. Ketika tradisi perguruan tinggi telah berkembang, tampaknya ada dualisme arah dakwah. Masjid kemudian dikenal sebagai pusat indoktrinasi ajaran karena sifatnya yang retorik, searah dan kurang mengenal dialog. Kecenderungan yang dibangun melalui masjid bisa mengarah kepada taqlid, suatu sikap keagamaan yang sangat ditentang oleh Muhammadiyah. Sebaliknya perguruan tinggi sebagai pusat pengajaran dan penelitian mengutamakan dialog. Karakter pendidikan tinggi yang menghargai kebebasan akademik dan otoritas serta norma-norma keilmuan sangat menghargai obyektivitas dan “intellectual adventure.” Di sinilah perbedaan antara dua institusi tersebut, sehingga masjid digambarkan sebagai pusat konservatisme dan perguruan tinggi sebagai pusat liberalisme.
Persoalan keempat adalah kecenderungan melemahnya akar rumput. Kurangnya muballigh lokal, lebih-lebih wanita, menjadi sebab lemahnya dakwah di kalangan masyarakat akar rumput. Dalam kadar tertentu, Muhammadiyah telah kehilangan muballigh yang menguasai bahasa daerah atau bahasa lokal dan humor-humor segar yang sesungguhnya menjadikan dakwah lebih komunikatif. Di samping telah muncul stiga elitisme bagi gerakan Muhammadiyah. Mungkin saja stigma itu tidak legitimet, tetapi itulah yang dikesankan oleh sebagian masyarakat. Ini penting untuk menjadi pengetahuan kita.
Persoalan kelima adalah kecenderungan dakwah yang impersonal. Dalam perjalanannya, dakwah Muhammadiyah sekarang ini dilakukan secara massal, misalnya melalui pengajian-pengajian umum. Lembaga-lembaga kesehatan dan pendidikan yang semestinya menjadi sarana yang effektif, pada kenyataannya konten dakwah disampaikan dalam bentuk yang massal dan impersonal. Padahal di awal perkembangannya, dakwah Muhammadiyah banyak diperkenalkan melalui kontak pribadi. K. H. Ahmad Dahlan mendapatkan pendukung dakwah melalui hubungan perdagangan yang bersifat personal. Demikian juga yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang banyak menemukan pendukung baru melalui diskusi-diskusi atau pertemuan personal. Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah pada zaman dulu, kini sedang diambil alih oleh kelompok lain di luar Muhammadiyah. Apalagi kalau bebicara tentang proses kaderisasi, dakwah personal itu masih sangat effektif.

Makalah disampaikan dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-46, 17-18 Desember 2009, di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2010 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 243 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: