RSS

MODEL DAN STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH DALAM PEMBINAAN UMMAT

10 Jan

MODEL DAN STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH
DALAM PEMBINAAN UMMAT
DI TENGAH DINAMIKA MASYARAKAT SAAT INI

Oleh: Dr. H. Abd. Fattah Wibisono, MA*

1. Pendahuluan

Sebagaimana ditegaskan dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Sebagai gerakan dakwah, maka yang utama bagi Muhammadiyah adalah bagaimana pesan-pesan dakwah dapat sampai dan diterima oleh masyarakat. Cerita mengenai almarhum Pak AR menemui Mendagri Amir Mahmud di awal Orde Baru, menunjukkan bahwa bagi Muhammadiyah, menyampaikan pesan dakwah adalah hal utama.
Di awal Order Baru dulu ada kebijakan dari Mendagri Amir Mahmud yang melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Muhammadiyah menjadi pengurus Muhammadiyah. Pak AR melakukan silaturrahim ke Mendagri Amir Mahmud untuk menegoisasikan kemungkinan pemberian kelonggaran. Paling tidak, dalam wilayah tertentu yang kehadiran PNS untuk mengurus Muhammadiyah, amat diperlukan. Mendagri ternyata tetap pada pendiriannya; melarang PNS menjadi pimpinan Muhammadiyah. Pak AR kemudian meminta Mendagri untuk mengijinkan PNS dari warga Muhammadiyah membuat pengajian di kantor. Mendagri mengijinkan permintaan Pak AR tersebut. Sejak itu, tumbuh subur pengajian di kantor-kantor hingga sekarang.
Sepenggal kisah tersebut menunjukkan bahwa komitmen Muhammadiyah terhadap aktitivitas dakwah cukup tinggi. Bagi Muhammadiyah, yang penting adalah bagaimana pesan dakwah itu bisa sampai kepada ummat Islam. Betapapun ada kesulitan dan kekurangan di sana sini.

2. Tajdid Dakwah Muhammadiyah awal abad 20
Persyarikatan yang didirikan oleh K.H.A Dahlan pada tanggal 8 Dzu al-Hijjah 1330 H., bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912 M. di Yogyakarta ini menurut Kuntowijoyo, mendatangkan perubahan terutama pada dua bidang; pemikiran Islam dan kelembagaan. Dalam bidang pemikiran Islam, Muhammadiyah memudahkan pemahaman pemikiran Islam dari sumber utamanya; al-Qur’an dan al-Sunnah serta berupaya membersihkan Islam dari segala unsur bid’ah, khurafat dan tahayul. Di bidang kelembagaan, Muhammadiyah memperkenalkan pengorganisasian suatu aktivitas secara permanen seumpama rumah sakit, kegiatan dakwah secara umum dan Majlis Tarjih; sebuah lembaga yang meghimpun ulama-ulama dan para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu untuk bermusyawarah bersama, meneliti, membanding dan memilih pendapat yang dianggap lebih benar dan lebih dekat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah dan kelembagaan kegiatan (Kuntowijoyo, ‘’Perlu Mengembangkan Masyarakat’’, dalam Salam, no. 20, tahun IV, edisi 20-26 Jumadi al-Awal 1410 Hijriah, h. 4. Lihat Sahlan Rosyidi, Kemuhammadiyahan Untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah II, Solo, Mutiara, 1984, h. 34).
Pelembagaan kegiatan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, apalagi mempunyai cakupan bertaraf nasional, tergolong baru di jamannya. Waktu itu, semua kegiatan yang dilakukan oleh umat Islam Indonesia bersifat lokal dan tidak terlembagakan dan cenderung terpusat pada figur tertentu. Ketika figur itu mengalami uzur tetap karena usia tua atau wafat, kegiatan yang telah dirintisnya tidak jarang mengalami kemunduran dan kemandekan. Pasang surut kegiatan umat Islam, dengan demikian, tergantung pada keberadaan individu. Bila penerusnya telah tersiapkan dengan baik, maka aktivitas dakwah yang telah dirintis itu akan mengalami peningkatan dan kemajuan. Sebaliknya, bila generasi penerus tidak tersiapkan, rintisan tersebut akan teggelam bersama dengan tenggelamnya sang figur pendiri.
Sejak kelahiran Muhammadiyah, konsep dakwah mengalamai perluasan makna dan cakupan. Dakwah tidak lagi sebatas dan identik dengan berceramah. Aktivitas yang terkait dengan penyelenggaraan rumah sakit, pendidikan, panti sosial dan tentu saja aktivitas penyelenggaraan pengajian dan pengkajian serta berceramah adalah dakwah. Semua aktivitas yang dilakukan oleh Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yag sebenar-benarnya, adalah dakwah. Aktivitas dakwah kemudian dilembagakan dan diorganisir secara permanen oleh Muhammadiyah.
Setelah berjalan satu abad, pelembagaan dakwah yang dirintis dan diperkenalkan oleh Muhammadiyah sudah menjadi milik umat Islam secara umum. Semua kegiatan dan aktivitas dakwah umat Islam telah terlembagakan dengan baik. Pelembagaan kegiatan dakwah yang di masa lalu masih terasa asing, sekarang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas dakwah umat Islam.

3. Tantangan dan Peluang Dakwah
Ada beberapa tangtangan dan sekaligus peluang dalam aktivitas dakwah ke depan. Pertama, problema kehidupan masyarakat semakin komplek. Kompleksitas kehidupan itu terkait dengan perubahan sosial politik, terutama pasca reformasi. Perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis, materialistik, hedonis dan individualistik. Priblema lain terkait dengan penetrasi budaya asing, multikulturalisme dan globalisasi informasi.
Kehidupan umat Islam yang semula lebih berorientasi pada idealisme bergeser menjadi cenderung berorientasi pada nilai guna dan manfaat individual semata. Idealitas sering terabaikan, digantikan dengan kecenderungan pragmatisme kehidupan yang berorientasi pada pemuasan dan perolehan serta kesenangan terhadap hal-hal yang bersifat materi.
Muncul pula kecenderungan pemikiran dan gerakan yang semakin radikal baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Yang berasal dari dalam negeri misalnya NII (palsu) yang gentayangan di sekolah dan kampus untuk melakukan rekrutmen anggota. Para anggota itu didoktrin mengenai pentingnya menebus dosa bila ingin masuk sorga dengan memebrikan uang sebanyak-banyaknya kepada organisasi NII, betapapun dengan cara menipu atau mencuri baik harta orang tua maupun milik orang lain.
Pemikiran dan gerakan radikal yang berasal dari luar negeri dan berkembang di Indonesia sekurang-kurangnya ada 7 kelompok. Mereka itu adalah; Pertama, gerakan salafi yang mengusung faham neo-wahabi yang mendapatkan dukungan dari Saudi Arabia untuk dikembangkan kepada umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kedua, gerakan jihadi. Gerakan ini dimotori terutama oleh mantan pejuang Afghanistan ketika melawan Uni Sovyet. Ketiga, al-Ikhwan al-Muslimun. Gerakan yang didirikan oleh Hasan Al-Banna di Mesir ini meski berusaha mewujudkan sistem khilafah, tapi mentoleransi kehadiran nation-state asalkan bentuknya negara Islam. Dalam bentuk partai, kelompok ini terwadahi dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Keempat, Hizbut Tahrir. Gerakan yang didirikan oleh Taqiyuddin an-Nabhani ini ingin membangkitkan kembali sistem khilafah dan berusaha menerapkan seluruh sistem Islam secara kâffah tanpa ada kompromi dengan sistem-sistem di luar Islam. Karena itu, gerakan ini menolak kerhadiran nation-state. Kelima, Syi’ah. Gerakan yang kurang memulyakan Abu Bakar, Umar, Ustman, Abu Hurairah ini mempunyai basis di Iran, Irak, Bahrain dan Libanon. Di Indonesia, penyebaran Syi’ah dilakukan oleh dua jalur negara dan swasta. Jalur resmi negara dilakukan di antaranya dengan mendidirikan Iran Corner di kampus-kampus. Jalur swasta dilakukan melalui organisasi swasta yang terhimpun dalam wadah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Keenam, Jama’ah Tabligh. Gerakan yang para elitnya memusuhi tokoh-tokoh da’wah seumpama Muhammad ibn Abd Wahhab di Najd, Abu A’la al-Maududi di Pakistan dan Sayyid Quthb (tokoh al-Ikhwan al-Muslimun) di Mesir ini, didirikan di India oleh Maulana Ilyas Khan Dhalvi. Ketujuh, Ahmadiyah. Gerakan yang didirikan Ahmad Mirza Ghulam Ahmad di India ini, berpusat di Inggris dan dapat sokongan penuh dari Inggris dan Amerika.
Tantangan lain adalah semakin berperan para juru da’wah kontemporer dan cenderung menggeser peran da’wah NU, Muhammadiyah, Persis dan ormas lain serta semakin berperannya media elektronik dan teknologi informasi lainnya dalam membentuk pola pikir dan prilaku masyarakat. Kedahsyatan pengaruh media elektronik dan teknologi informasi lain seumpama facebook, bolgger dan lainnya, dapat dilihat dari keberhasilan facebookers melawan apa yang disebut ’kriminalisasi’ KPK. Bukti lain dari kedahsyatan tersebut akibat pemberitaan media asing seumpama majalah The Economist (London), koran The Asian wall Street Journal, The New York Time dan Asia Times tentang skandal-skandal di Indonesia sepanjang Nopember 2009, relatif efektif dalam menghasilkan delegitimasi terhadap Presiden SBY (Azyumardi Azra, Republika, 3 Desember 2009).
Dalam kehidupan aqidah umat juga ditemukan semakin hidup suburnya takhayyul dan khurafat. Fenomena dukun cilik ”mbah” Ponari yang dikunjungi oleh puluhan ribu manusia untuk dimintai berkah, menunjukkan masih (atau malah bertambah) kuatnya takhayyul dan khurafat itu. Iklan reg mama Loren, Jiko Bodo dan lain-lain yang secara bebas di media elektronik juga memberikan petunjuk masih kuatnya takhayyul dan khurafat tersebut.
Pola kehidupan ibadah umat Islam juga masih belum sepenuhnya sejalan dengan tuntunan Nabi saw. Penyalahgunakan aktivitas doa umpamanya baik untuk kepentingan poliitis maupun bisnis dengan mudah dapat dijumpai. Aktivitas politik yang melakukan doa bersama dari penganut berbagai agama merupakan hal yang biasa dijumpai di negeri ini. Doa secara bergiliran dipimpin oleh berbagai tokoh agama. Tidak disadari, bahwa ketika mengaminkan doa, yang bersangkutan sesungguhnya sedang meminta sesuatu kepada tuhan orang yang meminmin doa tersebut. Kalau yang diaminkan doa non muslim, maka yang mengaminkan itu sesungguhnya tengah meminta kepada tuhan dia.
Dalam berbagai aktivitas training spiritual, juga dijumpai penyalahgunaan tersebut. Salah satu contoh ada suatu lembaga yang bergerak secara khusus menangani training spiritual, melakukan aktivitas sebagai layaknya ibadah haji lengkap dengan berbagai tahapan haji. Di tempat itu ada ka’bah, jamarat dan sebagainya.

4. Orientasi Dakwah Ke Depan
Ke depan, aktivitas dakwah diorientasikan kepada; pertama. kemandirian umat. Umat dibebaskan dari ketergantungan kepada selain Allah. Umat dibebaskan dari berbagai kepercayaan selain Allah seumpama percaya kepada dukun, tukan ramal, berhala politik dan tuhan-tuhan palsu lain yang secara potensial dapat menyesatkan dan memperdayai umat. Orientasi kemadirian yang merupakan misi profetik para Rasul, bermodal utama tauhidullah (pengesaan Allah). Misi kenabiah Nabi Ibrahim As. dan Nabi Muhammad Saw., umpamanya, adalah merupakan upaya membebaskan masyarakatnya dari ketergantungan hidup kepada selain Allah. Dengan tauhidullah pula, masyarakat diserukan untuk tidak percaya kepada para dukun, tukang ramal, berhala politik, dan tuhan-tuhan palsu lainnya yang menyesatkan dan memperdayai. Jadi, tauhidullah harus ditindaklanjuti dengan tauhid al-ibadah (unifikasi ibadah) dan tauhid al-ummah (penyatuan umat) menuju pembentukan khaira ummah (umat terbaik) yang selalu tampil membela dan melayani kepentingan umat manusia
Kedua, aktivitas dakwah diorientasikan kepada terwujudnya visi Muhammadiyah; terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah suatu komunitas atau masyarakat yang hidup teratur, mempunyai tujuan dan aturan main berkelompok untuk mewujudkan suatu tujuan dan memiliki berbagai keutamaan dan keunggulan.
Karakteristik keutamaan dan keunggulannya itu terdapat pada sifat-sifat dan aktivitas yang dimiliki. Yakni, umat yang melakukan aktivitas mengajak kepada kebaikan dengan cara melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Selama umat Islam melakukan aktivitas tersebut, predikat sebagai umat terbaik dan unggulan masih akan melekat padanya. Karena itu, umat Islam harus selalu melakukan dan mengembangkan aktivitas tersebut.
Secara garis besar, masyarakat Islam yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah mempunyai beberapa karekteristik sebagai berikut:
Pertama, saling mengingatkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian umat. Kedua, peduli dan saling memberdayakan (jasad dan bunyân). Ketiga, mempunyai sikap welas asih, tidak keras kepala, pemaaf, mempunyai dan mengembangkan tradisi syura dalam menyelesaikan berbagai masalah dan melibatkan Allah dalam segala aktivitas dengan keyakinan Allah akan memberikan yang terbaik dan termaslahat QS. 3:159 dan 191). Keempat, berjiwa ‘izzah (pede) terhadap siapaun, termasuk yang tidak seaqidah dan mengaitkan segala aktivitasnya dalam kerangka perwujudan mencari ridha dan ekepresi cinta kepada Allah dan rasul-Nya (QS. 5: 54). Kelima, berpaham keagamaan moderat dan dapat memberikan teladan; tidak ke kiri dan tidak pula ke kanan; tidak kaku dan tidak pula permisif dalam menjalankan syariah (QS. 2: 143 dan QS.1: 6-7). Semangat keberagmaannya adalah kepasrahan dan siap diatur oleh Islam (2: 128). Keenam, dalam memahami agama juga mencerminkan pandangan tengah; ada integrasi antara tekstualitas, kontekstualitas dan historisitas. Dan ketujuh, pandangannya terhadap kehidupan dunia mencerminkan sikap tengahan. Kehidupn dunia sebagaimana dalam QS. 27: 77, dipahami bersifat integratif; Kebahagiaan hidup di akhirat hanya dapat diwujudkan dengan fasilitas yang ditawarkan oleh kehidupan di dunia. Dunia tempat menanam dan akhirat tempat segala yang ditanam di dunia dipanen. Tidak ada sikap tenggelam dalam kenikmatan materi dengan mengabaikan kehidupan spiritual. Sebaliknya, tidak ada sikap hanya tenggelam dalam kehidupan spiritual dengan mengabaikan kehidupan dunia.

5. Model dan Strategi Dakwah
Untuk kepentingan dakwah ke depan, di samping secara terus menerus mengoptimalkan aktivitas yang sudah ada, beberapa pilihan dapat dilakukan Muhammadiyah untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Pertama, melakukan revitalisasi keluarga. Al-Qur’an surat al-Hasyr (66) ayat 7 menegaskan keharusan memelihara dan menjaga diri dan keluarga. Artinya, perintah untuk melakukan revitalisasi dakwah secara terus menerus dan berkelanjutan dari diri dan keluarga. Keluarga, sebagimana dipandukan dalam Pedoman Hidup Islami Muhammadiyah, difungsikan sebagai a. media sosialisasi nilai-nilai ajaran Islam b. kaderisasi; sebagai pelansung dan penyempurna gerakan da’wah, c. sebagai media pemberian keteladanan dan pembiasaan amal Islami, dan d. media penciptaan suasa dan kehidupan islami dalam bentuk membangun pergaulan yang saling mengasihi, menyayangi, saling menghargai danmenghormati, memelihara persamaan hak dan kewajiban.
Kedua, optimalisasi mesin persyarikatan dalam bentuk pemberdayaan ranting dan amal usaha secara maksimal sebagai media dakwah. Pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha baik bidang pendidikan, kesehatan dan sosial secara aktif dan sungguh-sungguh berkerja sama mengefektifkan gerakan dakwah di ranting dan amal usaha. Diprogramkan secara sistemik, amal usaha, terutama yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial untuk menjadikan peserta didiknya sebagai kader-kader Islam yang dipersiapkan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Ketiga, sebagai telah diungkapkan di atas tentang kedahsyatan pengaruh media elektronik dan teknologi informasi dalam membentuk pola pikir dan prilaku masyarakat, merupakan keniscayaan dakwah Muhammadiyah memanfaatkan media elektronik dan teknologi informasi. Saatnya Muhammadiyah mulai berdakwah melalui dunia maya sumpama lewat facebook, bolgger dan sebangsanya. Dalam pemanfaatan media elektronik, mungkin Muhammadiyah dapat mengambil bagian dalam mengisi acara tertentu di televisi lokal yang pada masa mendatang akan banyak dikembangkan.
Keempat, menjadikan maal sebagai obyek dakwah. Munculnya maal baru sesungguhnya memberikan peluang untuk berdakwah, sekurang-kurangnya untuk membantu pengunjung maal melaksanakan shalat jum’at. Bagi Muhammadiyah, ini merupakan lahan dakwah yang relatif strategis. Di antara jama’ah, ada berasalah dari kalangan menengah atas. Dari mereka dapat dikembangkan jaringan di kalangan masyarakat menengah atas yang belakangan banyak dikuasai oleh kelompok lain.
Keenam, melakukan sinergi dengan berbagai majlis dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah. Sebenarnya Muhammadiyah mempunyai obyek dakwah yang tidak pernah kering. Mereka datang ke Muhammadiyah, baik ketika sakit yang ditampung oleh balai pengobatan Muhammadiyah, atau sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Selama ini, mereka belum secara maksimal dijadikan sebagai obyek dakwah betapapun Muhammadiyah telah menegaskan semua amal usaha yang dimiliki adalah media dakwah Muhammadiyah. Sinergi dengan berbagai majlis dan lembaga dapat membantu terselenggaranya aktivitas dakwah secara maksimal. Wallâhu A’lam bi al-Shawâb

*
Kiageng AF. Wibisono, adalah warga BANGLADES (Bangsa Lamongan Desa) Jawa Timur, lahir di Lamongan, 12 Januari 1958, hidup dengan 1 Istri dan 3 anak; 1 laki-laki dan 2 perempuan, alumni Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM), pasantren dan IAIN/UIN Jakarta
 Di antara jabatan sekarang:
a. Wakil Sekretaris Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
b. Wakil Rektor III UHAMKA
c. Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat
d. Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN)
e. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syahid Jkarta
f. Pengawas Syariah di berbagai Asuransi Syariah
h. Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta
Hp/tlp. 08158783945 – 021-7411413, 021-68880598

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2010 in Uncategorized

 

Tag:

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 246 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: