RSS

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI

14 Feb

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KETERKAITANNYA DENGAN NORMA AGAMA DAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN SEBAGAI BAGIAN DARI UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL

DI STMIK & STAI Pringsewu, 14 Pebruari 2011

Oleh : Ir. Mahri Ibrahim, M.Pd.
(Konsultan Pendidikan Tingkat Nasional)

A. Pendahuluan

Era globalisasi dunia telah berimplikasi kepada semakin banyaknya perubah¬an dalam menghayati arti kehidupan bagi manusia modern. Perubahan terhadap gaya hidup berorientasikan perkembangan teknologi informasi, juga mempe¬ngaruhi perkembangan budaya, pola pikir, dan gaya hidup yang bersendikan adat, etika, serta penghayatan terhadap norma agama dan nilai-nilai ke¬manusia¬an.
Perubahan dunia saat ini sangat mungkin sebagai produk ledakan teknologi informasi. Hampir setiap hari muncul berbagai hasil ciptaan baru dari inovasi teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi telah berjaya menembus batas antar benua di seluruh dunia. Bahkan teknologi informasi telah berjaya merubah pola pikir , ideologi, budaya dan berbagai elemen luar memasuki ruang negara lain tanpa batas dan pengawalan. Kasus di beberapa negara seperti gejolak politik di Mesir, membuktikan bahwa kekuatan jejaring sosial yang muncul karena pengaruh teknologi informasi, dapat melebihi kekuatan militer. Teknologi Informasi sangat berharga dalam kehidupan manusia di era global, hingga turut menjadi penentu dan penggerak masa depan suatu bangsa.

Dampak negatif dari pesatnya perkembangan teknologi informasi di Indonesia dewasa ini, telah mempengaruhi upaya pencapaian tujuan pendi-di¬kan na¬sional. Karena itu, suatu pendekatan dan kegiatan melalui seminar pendi¬di¬kan perlu didukung untuk tujuan mengawal, mendidik, dan meminimalisir pe¬ngaruh negatif teknologi informasi agar tidak semakin berkembang menjadi penyakit sosial dalam kehidupan masyarakat.

B. Teknologi Informasi dan Pendidikan

Teknologi informasi telah memberi sumbangan besar kepada pendidikan di Indonesia. Teknologi informasi telah mengubah cara kita mengelola dan mendapatkan pengetahuan, melaksanakan pembelajaran, berkomunikasi, mendapatkan informasi dan memudahkan pembelajaran.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat bantu dalam penyusunan, pelaksanaan, dan system evaluasi program, telah banyak memberi sumbangan kepada pembangunan nasional di bidang pendidikan. Namun, tanpa mengesampingkan sumbangan dan kebaikan dari pe-manfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam system pembelajaran, terdapat kesan dan pengaruh yang kontradiktif terhadap upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Sebab itu, seluruh stakeholders pendidikan harus peduli terhadap dampak negatif yang mungkin muncul karena pemanfaatan teknologi informasi yang tidak tepat guna.

C. Teknologi Informasi dan Keterkaitannya dengan Norma Agama

Data dan informasi yang tepat dan valid terutama yang berkaitan dengan norma agama dan nilai-nilai kemanusiaan sangat penting untuk menjamin terjadinya penyelewengan dan kepalsuan fakta. Pihak yang tidak ber¬tang-gungjawab cenderung mencari jalan pendustaaan untuk tujuan menye¬sat-kan orang lain. Sebab itu, dalam mendapatkan informasi, sedapat mungkin kita merujuk kepada sumber aslinya, guna memastikan kebenaran informasi dan mengelakkan kekeliruan. Fakta nyata tentang hal ini adalah banyaknya pencari informasi yang hanya dengan mudah mempercayai bahan yang diperolehi dari internet. Rujukan informasi yang semata-mata bersumber dari internet belum tentu akurat. Karena itu, kita dituntut untuk berpikir kritis dan berjiwa besar dalam menyerap setiap informasi hasil rekayasa teknologi.

1. Penayangan Web Negatif.

Minat dan kesukaan membuka dan menyaksikan halaman-halaman web yang tidak sesuai dengan norma agama dan pesan moral yang beretika, akan memberi pengaruh negatif dalam perkembangan daya pikir dan fisik manusia. Ketagihan terhadap halaman web negatif memungkinkan munculnya ke¬rusakan moral, menurunkan nilai keperibadian, mendorong aktivitas sexsual, dan pada akhirnya hanya akan membuang waktu dan uang.

Aktivitas semacam ini telah melanda sebagian generasi muda kita dewasa ini, bukan hanya itu, tapi juga sudah merambah kepada anak-anak yang lebih dikenal dengan “anak korban pornografi”. Keberadaan halaman web negatif yang begitu mudah diakses oleh siapa saja, termasuk anak sekolah, remaja, dan golongan dewasa, memberi kesan negatif terhadap perubahan nilai dan gaya hidup mereka. Padahal pendidikan agama jelas mencegah umat dari terlibat dalam kegiatan tidak bermoral. Pendidikan akhlak dan kepribadian menurut ajaran agama adalah pembentukan jiwa dan peribadi manusia yang mampu menjaga dan menjauhi amalan-amalan buruk termasuk mengakses halaman web negatif.

Dampak dari gejala ini adalah munculnya berbagai penyakit sosial masyarakat seperti pelecehan seksual, pelacuran, free sex, penipuan credit card secara online, dan sebagainya. Kesalahan dalam pemanfaatan teknologi informasi ini telah mencemari konsep dan falsafah hidup manusia yang mendambakan keamanan, kedamaian, keharmonisan, dan ketenang-an dalam hidup di tengah masyarakat.

2. Penyebaran Fitnah dan Gossip

Kemudahan akses informasi melalui teknologi seperti jejaring face book, sms, dan media lain sering disalahgunakan untuk kepentingan peribadi. Gejala utama yang selalu dikaitkan dengan teknologi ini ialah penyebaran fitnah dan gossip oleh pihak tertentu untuk tujuan melemahkan, memalukan, atau menjatuhkan pihak lain, demi kepentingan diri sendiri atau golongan.

Kegiatan ini bertentangan dengan norma agama, etika, dan tatasusila dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Fitnah dan gossip menghancurkan harga diri, dan kedudukan seseorang dan keluarganya di mata masyarakat. Menyebar angin menuai badai, menyebar gosif menuai ancaman, menyebar fitnah akan menuai dosa dan siksa neraka. Sebagai manusia cerdas, harusnya kita sadar bahwa “Kita tidak akan pernah mendapatkan suatu keuntungan apapun dari mengungkap kelemahan dan kekurangan orang lain”. Kadang-kadang kita memang terlalu pintar untuk mengungkap kelemahan dan kekurangan orang lain, tetapi langsung menjadi bodoh saat mengungkap kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Orang cerdas akan menilai: ”betapa rendahnya orang ini” saat dia mendengar ucapan atau membaca tulisan kita yang bernada negatif seperti gosif apalagi fitnah. Jadi, tanamkan keyakinan bahwa kita tak akan pernah melakukan itu.

3. Permasalahan Remaja

Minat remaja terhadap teknologi informasi terutama teknologi internet dan alat komunikasi (hand phone) mendorong mereka menghabiskan banyak waktu di dunia maya. Program seperti chatting, permainan video, sms, mms, 3G dan berbagai aktivitas lainnya memunculkan permasalahan tersendiri. Kegan¬drungan remaja seperti ini, telah membuat banyak siswa bolos sekolah, menyalah¬gunakan uang saku, meminjam uang teman, bahkan ada yang sanggup menipu dan mencuri. Aktivitas semacam ini seharusnya membuat prihatin para orangtua, tapi sangat disayangkan, tidak banyak orangtua yang peduli dengan kondisi ini. Setiap orangtua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pengikutnya. Sistem kontrol yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjamin anak-anak tidak terlibat dalam kancah gejala sosial. Hal yang sama juga perlu menjadi perhatian bagi segenap stakeholders pendidikan, untuk mengontrol para pelajar dalam mengaktifkan hand phone dan/atau mengunjungi pusat internet pada saat atau setelah waktu sekolah. Kebijakan tentang pembatas¬an waktu bagi pelajar untuk mengaktifkan hand phone dan/atau berada dipusat-pusat internet, mungkin dapat dipertimbangkan oleh pengelola sekolah atau pemerintah.

4. Etika Berkomunikasi

Pengaruh teknologi informasi yang menular dalam kehidupan modern saat ini jelas telah berjaya merubah paradigma sosial budaya dan bahasa komunikasi. Laju tuntutan jalinan komunikasi yang berbanding terbalik dengan keter¬se¬dia¬an media, telah memicu terjadinnya kerusakan bahasa dan etika komunikasi.

Pertimbangan keterbatasan media dan efesiensi pada program sms dan chatting menuntut penulis menggunakan tulisan yang ringkas dan mudah. Penggunaan kata hasil ringkasan yang tidak tepat, baik dari susunan ejaan, maupun dari struktur kalimat jelas akan merusak tatanan bahasa itu sendiri. Apalagi sebagian dari kata itu digunakan untuk komunikasi yang kurang menjunjung nilai-nilai etika. Sayangnya, kondisi ini justru membuat banyak pihak menerimanya sebagai bahasa komunikasi “gaul” terutama di kalangan remaja. Tidakkah kita sadar, bahwa ucapan atau ungkapan melalui tulisan menggunakan media teknologi informasi mencerminkan kualitas penulisnya. Ucapan dan perbuatan adalah hasil dari pikiran. Orang bijak akan menjadi majikan dari pikirannya, orang bodoh akan menjadi budaknya. Semakin baik pikiran seseorang, maka dia akan semakin dihargai di masyarakat. Jadi, nilai seseorang ditentukan oleh ucapan dan perbuatan¬nya.

5. Perspektif Islam mengenai IT

Ruang lingkup ilmu pengetahuan sangat luas dan mencakupi berbagai bidang dan sub-bidang. Teknologi Informasi merupakan salah satu bidang ilmu yang perlu dikuasai oleh umat Islam. Islam dan umatnya tidak dapat lari dan harus berada dalam arus perkembangan teknologi informasi. Jika tidak, maka umat islam akan jauh tertinggal. Proses perkembangan teknologi informasi akan mewujudkan masyarakat berilmu di era global. Karena itu umat Islam perlu berperan dalam era teknologi informasi ini untuk:

Menegakkan dan menyebarkan kebenaran serta kesucian agama Islam dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang perkembangan dunia, budaya, dan peradaban dengan memanfaatkan halaman-halaman web di internet.

Menjunjung tinggi dan memegang teguh norma agama dan nilai-nilai kemanusian, dengan mengaplikasikan penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi yang beradab dan beretika, sebagai bagian dari upaya pencpaian tujuan pendidikan nasional.

Kualitas pengamalan norma agama dan nilai-nilai kemanusiaan perlu terus ditingkatkan, dengan harapan dapat menunjang upaya penciptaan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam konteks ini, terdapat beberapa aspek nilai yang perlu diperhatikan antaralain:

a. Nilai Murni

Nilai murni merupakan nilai yang baik yang dapat membina keharmonisan, kekuatan dan pembangunan individu serta masyarakat. Nilai ini perlu dikembangkan guna membendung berbagai gejolak dan krisis yang dihadapi masyarakat. Nilai ini mencakup kejujuran, kesetiaan, keadilan dan sebagainya. Dalam dunia teknologi informasi yang bebas nilai, dimana Internet dijadikan sebagai senjata utama, maka dipastikan bahwa mereka yang terlibat di dalamnya sentiasa terkait dengan nilai ini. Sebagai contoh; seorang pengguna Internet wajar tahu sebatas mana hak penggunaannya. Pembuat halaman web mesti sadar apakah informasi yang disebarkan itu akan menambah nilai kepada masyarakat atau sebaliknya. Pengamalan terhadap nilai murni ini, akan membimbing manusia dalam memanfaatkan teknologi informasi secara tepat guna.

b. Nilai Moral

Nilai moral merupakan nilai asas dan fundamental dalam pembinaan individu dan masyarakat. Mempertahankan kebaikan dan menolak segala bentuk keburukan serta tindakan yang memperjuangkan kebenaran perlu ditingkatkan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Semua manusia Indonesia hendaknya menyadari, bahwa moral individu yang baik merupakan modal awal bagi berkembangnya potensi setiap individu menuju manusia Indonesia yang baik dan cerdas.

c. Nilai Etika

Masyarakat yang beretika ialah masyarakat yang mempertahankan tanggungjawab moral dan social, membentuk individu sebagai anggota masya¬rakat yang komit terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Islam sebagai contoh telah menyediakan asas etika dan akhlak yang luhur untuk diamalkan oleh umatnya, termasuk dalam penggunaan teknologi informasi. Prinsip “benar” memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Masalah kerakusan pornografi, akan dapat diatasi jika kita sadar dan memastikan bahwa tindakannya itu berdasar pada asas kebenaran.

Amanah sebagai standard umum perbuatan manusia akan melahirkan generasi yang “success” dalam setiap sendi kehidupan. Penyebar informasi yang amanah dan memiliki kecerdasan rohani yang tinggi, akan sentiasa memastikan bahwa informasi yang disebar adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Sifat bijaksana juga perlu dimiliki oleh setiap insan, karena akan mendorong manusia untuk senantiasa berhati-hati dalam menyebarkan sesuatu melalui media berbasis teknologi informasi. Jika sifat ini tertanam dalam jiwa setiap individu, maka standard etika yang cemerlang akan berhasil diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat dunia.

d. Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang mencirikan kehidupan suatu bangsa. Budaya masyarakat Indonesia terkenal dengan identitas tersendiri yang dipengaruhi oleh adat ketimuran, kepercayaan, tradisi, bahasa, dan lain-lain. Penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi seperti internet harus diterima dengan hati terbuka, tetapi harus di pandu dengan etika dan akhlak mulia agar membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Memanfaatkan internet untuk mencari informasi adalah satu kebutuhan, dan informasi yang diakses hanyalah informasi yang memiliki kontribusi bagi pengembangan potensi diri guna mencapai “kebahagiaan dunia dan akherat” sebagai tujuan hidup manusia.

D.

Teknologi Informasi dan Keterkaitannya dengan Norma Agama sebagai bagian dari upaya peningkatan Mutu Pendidikan

Media belajar paling efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan di era global seperti sekarang ini adalah dengan menggunakan teknologi informasi dan kmomunikasi, yaitu teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan, mengedit, mendapatkan informasi dalam berbagai bentuk. Dilain pihak, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak dilandasi oleh norma agama dan nilia-nilai kemanusiaan, akan menyimpangkan fungsi media pembelajaran sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan.

Landasan filosofis dan prinsip dasar pembangunan pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan landasan tersebut, maka sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin kehidupan yang berharkat dan bermartabat serta menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan berakhlak mulia.
Landasan filosofis dan prinsip dasar itulah yang memunculkan defenisi pendidikan sebagai upaya memberdayakan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang menjunjung tinggi dan memegang teguh (1) norma agama dan kemanusiaan, (2) Norma persatuan bangsa, (3) Norma kerakyatan dan demokrasi, dan (4) Nilai-nilai keadilan sosial. Mengacu kepada pengertian tersebut, maka pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, madiri, serta menjadi warga Negara yang bertanggungjawab dan demokratis.

Berdasarkan uraian di atas, maka proses dan pelaksanaan pembelajaran dalam system pendidikan nasional, dengan menafaatkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran efektif, harus mengarah kepada upaya pencapaian sasaran, termasuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjunjung tinggi dan memegang teguh norma agama dan kemanusiaan.

Jika ditinjau dari aspek ketercapaian tujuan, maka pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada system pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi informasi. Jadi, jelaslah bahwa teknologi informasi memiliki keterkaitan erat dengan norma agama sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan nasional.
Akhirnya, semoga tidak ada lagi informasi yang dapat merusak dan meng-hancurkan keutuhan masyarakat disebar melalui jaringan maya yang akan diakses oleh manusia sejagat. Sadari, bahwa teknologi informasi itu bebas nilai, ia bisa digunakan untuk kebaiakan dan keburukan. Jika dihadapkan pada situasi lingkungan yang sulit, orang cerdas akan mampu mengendali-kan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi itu.

Terimakasih.


REFERENSI

Administration. Fakultas Jurnal Kolej Cempaka/Kenanga: UiTM. Shah Alam.
Chee Peng Lim. 1986. Small Industries in Malaysia, Kuala Lumpur: Berita Publishing Sdn. Bhd.
com/Journal/artikel1.htm Ismail Hj. Ibrahim (2000) “Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) Untuk Islam” Memahami Islam Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi. Kuala Lumpur.
D.S. Cohen & J.P. Kotter. 2005. The Heart of Change Field Guide. Deloitte Development LLC. USA. 237 p.
Rangkuman dari berbagai sumber Internet.
Thomas. A Stewart. 2002. The wealth of knowledge. Intelectual capital and the Tweny First Century Organization. Nicolas Brealey Publishing London. 377p.

 
2 Komentar

Posted by pada Februari 14, 2011 in Tak Berkategori

 

Tag:

2 responses to “PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 238 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: