RSS

Di China, Merek Rokok Jadi Nama Sekolah

04 Jan

04-01-2013 15-05-35

BEIJING – Bayangkan jika anak Anda menempuh pendidikan di sekolah yang diberi nama sesuai dengan sebuah merek rokok. Atau bayangkan jika di dinding sekolah anak Anda terpampang slogan “tembakau membuatkan Anda sebuah bakat.”

Kejadian seperti itu belum pernah terdengar di banyak negara. Tetapi di China, merek tembakau lokal berani mensponsori sebuah sekolah bagi siswa miskin dan menamakan sekolah tersebut sesuai dengan merek tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran karena jumlah kaum muda perokok di negeri Tirai Bambu itu mencapai 11,5 persen.

Baru-baru ini, sekolah besutan merek tembakau lokal tersebut mendapat kecaman setelah pemerintah merilis rencana tiga tahun untuk menekan kebiasaan merokok masayarakat. Sebab di China, angka kematian akibat tembakau mencapai satu juta orang.

Rencana ini dipimpin oleh Kementerian Industri dan Teknologi Informasi serta Kantor Karantina dan Kualitas Negara dengan tujuan memotong angka perokok di China, yakni dari 301 juta menjadi 292 juta. Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan melarang iklan tidak langsung melalui sponsor.

“Kaum muda harus dilindungi dari tembakau. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab terhadap hal ini,” ujar Pakar Kesehatan Masyarakat dari Peking University Zhao Liang, seperti dikutip dari The Strait Times, Jumat (4/1/2013).

China merupakan anggota konvensi kerangka kontrol tembakau besutan WHO yang melarang iklan tembakau. Tetapi pengusaha rokok di China, seperti grup Hongyun Honghe atau grup Hongta yang dimiliki negara mendapatkan pendapatan melalui proyek-proyek amal pendanaan, terutama di bidang pendidikan.

Pada awal 2009, Aktivis antirokok Wu Yiqun melihat, merek tembakau menanamkann pengaruh mereka di kalangan kaum muda China. Dia mendatangi dua sekolah terpencil di bagian barat Provinsi Sichuan yang dinamakan tembakau karena didanai oleh perusahaan rokok. Bahkan salah satu sekolah tersebut, yakni Sichuan Tobacco Hope School menampilkan slogan, “Kerja keras akan menjadikan Anda jenius, tembakau akan membuat Anda berbakat.”

“Banyak laporan terhadap tindakan tersebut, namun sekolah itu tidak melakukan apapun tentang hal itu,” papar Thinktank Pusat Penelitian Pembangunan Kesehatan Beijing, Wu.

Akhirnya, pada Juli lalu kedua sekolah tersebut maupun mencopot lebel merek rokok dari nama sekolah mereka. Hal ini dilakukan ketika lembaga penyiaran negara, yakni Central China Television (CCTV) meninjau kembali berbagai laporan mengenai kedua sekolah tersebut.

Wu mengungkapkan, untuk menegakkan larangan tersebut, pihak berwenang harus mengambil tindakan untuk melawan sekira 100 sekolah di pedalaman. Sebab, lanjutnya, merek rokok individual mengaku mensponsori puluhan sekolah.

Mematikan iklan tembakau secara langsung di sekolah akan membersihkan udara di kalangan pelajar baik mereka berhak untuk merokok ataupun mereka menyadari akibat buruk dari merokok. “Jika tidak, mereka mungkin akan bertanya, dengan perusahaan rokok menyumbangkan dana ke sekolah berarti mereka dapat mengonsumsi produk tersebut?” tutur Dosen Tsinghua University yang berfokus pada tanggung jawab sosial perusahaan itu.

Membatasi iklan terselubung perusahaan rokok juga dapat membantu upaya pemerintah untuk memadamkan kebiasaan merokok masyarakat. Pemerintah berharap dapat menurunkan persentasi perokok muda yang berusia 13-18 tahun dari 11,5 persen menjadi 8,5 persen. Serta perokok dewasa yang berjumlah 28,1 persen menjadi 25 persen pada 2015.

Tapi, pertempuran untuk mengendalikan penggunaan tembakau di China yang merupakan produsen dan konsumen rokok terbesar di dunia itu masih menjadi tantangan besar. Satu dari dua pria merokok sementara sekira dua dari 100 wanita juga ikut menyalakan rokok. Selain itu, rokok merupakan hadiah populer, terutama di kalangan pedesaan.

Pemerintah daerah juga enggan untuk mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan rokok BUMN karena mereka berkontribusi pada pundi-pundi pajak dan menyediakan lapangan kerja. Secara keseluruhan, bisnis tembakau meningkatkan sekira enam persen tingkat perokonomian China.

Kendala lain dalam pelaksanaan program tersebut adalah ketidaktahuan para perokok akan bahaya merokok bagi kesehatan. Hanya satu dari empat orang dewasa yang mengetahui risiko penggunaan tembakau serta proporsi perokok yang ingin berhenti masih sangat minim. Hal ini terungkap melalui Survei Global Tembakau atas Usia Dewasa di China.
(mrg)

Source : http://kampus.okezone.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2013 in Kampus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: