RSS

Karuniakan Kami Kemudahan Memasuki Surga-Mu, Ya Rabbi

04 Jan

Bismillahirrahmaarirahim.

berdoa_web

dakwatuna.com – Beberapa waktu lalu, saya sempat diajak teman berkunjung ke negara tetangga, dan salah satu agenda yang sempat saya dapatkan, adalah ber“wisata” ke tempat yang bernama Genting, tempat wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai manca negara, yang menyediakan berbagai fasilitas dan area permainan bagi semua usia, dari mulai anak-anak sampai dewasa, berbagai area belanja, dan salah satunya memang ada tempat “khusus untuk bermain judi”.

Awalnya saya sempat ragu. Penasaran, kenapa tempat ini begitu terkenal, dan begitu banyak wisatawan dari berbagai negara, banyak berkunjung ke tempat tersebut. Setelah diskusi dengan mahasiswa muslim yang boleh dibilang menjadi “Tour Guide”, akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut serta ke tempat tersebut. Ada hikmah yang bisa kita petik dari kunjungannya ke tempat tersebut, begitu penjelasan yang saya dapatkan.

Ternyata, untuk menuju tempat ini memang banyak yang menarik perhatian. Untuk bisa sampai ke tempat wisata tersebut, kita harus menaiki gondola yang panjang lintasannya sampai 3 kilometer, tidak pada posisi yang datar, tapi posisi dan lintasan yang terus makin menanjak, menuju ke atas bukit. Menguji adrenalin, menegangkan, sekaligus mencekam, karena sesekali gondola berhenti di tengah jalan, bergoyang-goyang di atas awan dengan ketinggian yang mencekam, dan diselimuti awan. Jika di taman mini kita naik gondola dengan posisi lintasan datar, maka tidak demikian, di sini. Jika kita naik pesawat, ketika sudah sampai di atas awan, maka tidak bisa melihat yang lain di luar, selain awan, di sini kita masih bisa melihat pepohonan di bawah dengan ketinggian yang menyeramkan, dan kita hanya dibatasi dengan mangkok gondola dan kaca, yang mampu menampung 6 orang penumpang. Inilah “ke-seru-an” yang tidak kita dapatkan di tempat lain.

Dan ternyata ini pula, yang menarik wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke tempat ini. Jika Anda termasuk orang yang trauma dengan ketinggian, sebaiknya tidak perlu datang ke tempat ini. Setelah sampai di tempat, di atas bukit, sebenarnya tidak banyak yang menarik, kurang lebih tidak berbeda jauh dengan tempat-tempat wisata yang lain.

Yang menarik perhatian saya secara pribadi, bukan pada gondolanya, tapi justru pada antriannya untuk bisa menaiki gondola, menunggunya bisa sampai 1-2 jam sendiri, dari mulai pembelian tiket, sampai menaiki gondola. Antrian dibuat dengan letter S, berkelok-kelok dan ruangan selebar sekitar 25 kali 15 meter, terisi penuh oleh wisatawan yang berbaris mengular dengan posisi huruf s yang bersambung menyambung.

Beragam corak dan kondisi manusia tumpah ruah di antrian tersebut. Ada nenek-nenek tua dengan badan yang ringkih bergabung dengan rombongan keluarga besarnya. Ada keluarga muda yang terlihat begitu repot dengan kedua anak balitanya yang menangis, plus tas perbekalannya, ada anak-anak muda yang bergurau cekakak cekikik tak peduli dengan sekitarnya. Gambaran yang mewakili keragaman manusia dari segala sisinya.

Apa yang saya pikirkan selama masa mengantri, adalah bayangan bagaimana antrian nanti di akhirat, ketika harus mengantri menunggu catatan amal, atau mengantri masuk surga (ya Allah jadikan kami ahlul jannah, Aamiin), Dalam keadaan capai dan jenuh mengantri, saya berdoa, Ya Allah semoga engkau karuniakan kepada kami kemudahan masuk surgaMU nanti di akhirat.

Lantas saya mengingat kembali hadits-hadits yang menggambarkan tentang keistimewaan dan kemudahan yang akan didapatkan oleh para syuhada, masuk surga tanpa hisab. Duhai…. betapa nikmatnya wahai Rabbku, jika hamba pun bisa mendapatkan karunia tersebut. Tak perlu mengantri panjang, tak perlu bercapai ria dengan kaki yang pegal berdiri seluas dan sepanjang huruf s yang sambungannya seolah tak pernah berhenti. Disambut dengan sapaan yang menyejukkan, “ya ayyatuhannafsul muthmainnah, irjiie ila Rabbika Raadhiyatan mardhiyah, fadkhuli fie ibadii, wadkhulie jannati.”

Selanjutnya yang merasuki jiwa ini adalah rasa malu. Duhai Rabbi, betapa hamba ini masih terlalu jauh untuk mengharapkan karunia sehebat itu. Seringkali masih tersisa kemalasan, seringkali masih tersisa ketakutan, seringkali masih tersisa keraguan, seringkali masih tersisa hitung-hitungan materi, seringkali masih tersisa kedengkian, seringkali masih tersisa ketidakikhlasan, seringkali masih tersisa egoisme, seringkali masih tersisa ini itu, dan segala sisa-sisa kejahiliyahan di dalam diri ini, ketika seruan “jihad” memanggil. Padahal sejatinya, janji Allah tidak akan pernah diingkari, balasannya adalah pasti, kasih sayangnya tak pernah henti, surgaNya kekal abadi. Tapi kenapa, kita sering ada pada kondisi, seolah lupa dengan kebenaran semua ini.

Tak lama kemudian, renungan akhirat itupun terpaksa harus dihentikan, karena antrian sudah sampai ujung, dan harus segera naik gondola secara hati-hati. Selanjutnya adalah pengembaraan dan pengalaman batin yang menegangkan, berada di atas awan dengan ketinggian yang terus menanjak. Makin menghadirkan kesadaran diri yang begitu lemah, di tengah belantara alam semesta ciptaan Allah yang sangat menakjubkan. Sanurihim aayaatinaa fil afaqi wa fie anfusihim. Hatta yatabayyana lahum annahul haq (fushillat 53). Rabbana aamanna bimaa anzalta wattaba’na rrasuul faktubnaa ma’asysyaahidin (wahai Rabbku, kami beriman terhadap apa-apa yang engkau turunkan, maka catatlah kami sebagai golongan orang-orang yang syahid). Aamiin. Ya Rabbana.

Oleh : Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2013 in Tazkiyatun Nufus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: