RSS

Kesederhanaan bukan kehinaan Bag.1

02 Apr

kesederhanaan
adalah keindahan di mata Tuhan.
“… Allah tidak pernah suka kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ (al Hadîd: 23).

Pelawak kenamaan itu berdiri dengan ‘kesederhanaannya’.

Di depan kamera TV, ia ditanya, “berapa uang yang Bapak bawa setiap mudik…?

Dia menjawab, “ah saya mah orang yang sederhana. Saya tidak pernah bawa uang banyak kalau pulang kampung…”

Wawancara liputan mudik pelawak kenamaan tersebut pun selesai, beralih ke artis yang lain.

Tapi kemudian kamera sempat meliput lambaian tangan sang pelawak yang ‘sederhana’ itu,

lambaian tangan yang dilambaikan dari dalam kursi empuk mobil BMW seri terbaru,

diikuti oleh empat mobil mewah keluarganya di belakang BMW tersebut.

Inikah sederhana…? Tidak tahu. Luqman sungguhan tidak tahu jawabannya.

Apakah mudik ‘ke kampung’ dengan mobil nan mewah,

plus empat mobil mewah lain di belakangnya bisa dibilang ‘sederhana’.

Karena batasan-batasan kesederhanaan, dan bahkan pemborosan dan kesombongan, dalam abad modern ini terasa semakin kabur.

Kita tidak bisa, misalnya, serta merta menyebut makan di restoran mahal sebagai sebuah pemborosan.

Kalau ia penghasilannya memang di atas rata-rata, baginya itu bukanlah pemborosan,

sehingga makan di restoran tersebut diibaratkan sekedar kita makan di warung padang biasa.

Kita juga tidak bisa serta merta menuding orang yang berpakaian mewah,

lengkap dengan satu dua hiasan mahal sebagai orang yang sombong.

Toh, memang itu adalah hasil keringatnya.

Bingung Luqman, bingung.

Kalo begitu, lebih baik bertanya sajalah pada diri sendiri masing-masing.

Apakah dalam kita berjalan, berjalannya dengan kesederhanaan atau bukan?

Bertanya sajalah pada diri kita masing-masing,

apakah dalam sikap hidup keseharian kita, kita bersikap dengan keangkuhan dan kesombongan?

Dan apakah dalam cara kita menikmati kekayaan dan kenikmatan, kita menikmatinya dalam kesendirian?

Dan dalam bertanya itu, kita bandingkan dengan mereka yang status sosial ekonominya di bawah kita.

Dalam bertanya kepada diri kita, perbandingkan dengan jujur antara keinginan Allah dan keinginan kita.

Ya, penilaian dan jawaban yang jujur adalah apa yang diberikan oleh diri kita sendiri.

Tentunya selama hati kita juga bukan hati yang mati.

Source : http://yusufmansur.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2013 in Islam

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: