RSS

Kesederhanaan bukan kehinaan Bag.2

02 Apr

Demi melihat tayangan akan ‘kesederhanaan’ di TV tersebut, Luqman sadar pentingnya kesederhanaan.

Kesederhanaan enak dilihat.

Apalagi di tengah-tengah komunitas masyarakat yang saat ini banyak diliputi oleh penderitaan dan kekurangan.

Menjadi tidak wajar bila kita berjalan dengan keangkuhan dan kesombongan,

seakan kita yang paling kaya, seakan kita yang paling kuat.

Apalagi di mata Allah, tidak berguna harta sampai ia kita manfaatkan untuk membantu sesama,

dan tidak mambawa manfaat apapun juga kesombongan yang kita pertontonkan.

“… Allah tidak pernah suka kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ (al Hadîd: 23).

Kesederhanaan bukan berarti kita tidak boleh kaya, tidak boleh tampil dengan perhiasan.

Tapi lebih pada jiwanya, pada diri yang paling dalam;

Kesederhanaan ketika kaya adalah ketika kita mampu berbagi kekayaan itu.

Kesederhanaan ketika kuat adalah ketika kita mampu melindungi dan menolong sesama.

Kesederhanaan ketika menjadi pemimpin adalah tetapnya tindak tanduk dalam kesahajaan, tidak sombong, dan mengupayakan siapa yang dipimpinnya mendekat kepada Allah, dan meraih keuntungan bersama.

Kesederhanaan ketika sukses adalah ketika semakin tumbuh empati kepada mereka yang menderita.

Kesederhanaan ketika populer adalah tetapnya ia dalam kesahajaan, tidak besar kepala, dan memandang bahwa kepopulerannya ini bukan segalanya.

Inilah di antara rupa kesederhanaan yang sebenarnya, kesederhaan yang jauh dari keserakahan, ketidaktahuan diri, dan mau berbagi.

Sehingga ketika kita tampil dengan kemewahan dan kekuatan yang kita miliki, wajah kita tetap enak dilihat.

Ketika kita muncul dengan perhiasan yang memang kita punya punya, dan atribut-atribut keduniaan lain, sikap kita tetap sejuk dilihat.

Memang, kesahajaan akan tetap muncul dari jiwa yang sederhana;

Hai keturunan Adam, pakailah perhiasanmu pada setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah – segala rizki – yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan serta siapa yang yang mengharamkan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, semuanya itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan tertentu untuk mereka saja di hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

Source : http://yusufmansur.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2013 in Islam

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: